Anda membutuhkan obat kortikosteroid ? Segera hubungi apotik online INDICA.
CODE:
Harga Per Satuan Terkecil : Rp2,700.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00
Amtocort ® [tab] Pharos komposisi Triamcinolone Indikasi Bronkial asma, alergi rhinits, RA, urticaria, dermatitis atopik & kontak. Dosis Dewasa & Childn = 12 tahun 4-48 mg / hari. Childn <12 yr 416 mcg-1.7 mg / kg badan wt / hari. Administrasi Harus diambil dengan makanan Kontraindikasi Infeksi jamur sistemik, TB, kortikosteroid hipersensitivitas. Peringatan khusus HTN, herpes simpleks okular, sirosis, hipotiroidisme, kolitis ulseratif nonspesifik, DM. Adverse Drug Reactions Cairan & elektrolit gangguan, steroid miopati, kelemahan otot, ulkus peptikum, osteoporosis, purpura, striae, hiperpigmentasi. Kehamilan Kategori (US FDA) Kategori C: Entah studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenic atau embryocidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat harus diberikan hanya jika manfaat potensial membenarkan potensi risiko terhadap janin. dalam 1 trimester (sistemik rute). Kategori D: Ada bukti positif resiko janin manusia, tetapi manfaat dari penggunaan pada wanita hamil dapat diterima meskipun risiko (misalnya, jika obat yang dibutuhkan dalam situasi yang mengancam jiwa atau penyakit yang serius yang lebih aman obat tidak dapat digunakan atau tidak efektif). MIMS Class Hormon kortikosteroid ATC Klasifikasi H02AB08 - triamcinolone; Milik Glukokortikoid kelas. Digunakan dalam persiapan kortikosteroid sistemik. Packing Amtocort tablet Amtocort 4 mg x 10's Produsen Pharos
Harga Per Satuan Terkecil : Rp27,850.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00
KOMPOSISI Tiap kapsul mengandung: budesonide.............................................................................3,0 mg zat-zat lain: Sukrosa, tepung jagung, laktosa monohidrat, povidon K25, eudragit L [methacrylic acid methyl methacrylate copolymer (1:1)], eudragit S [methacrylic acid methyl methacrylate copolymer (1:2)], eudragit RS [ammonio methacrylate copolymer, type A], eudragit RL [amminio methacrylate copolymer, type B], talc, dibutil ftalat, gelatin, air, titanium dioksida, eritrosin, fero oksida merah dan hitam, natrium laurilsulfat. FARMAKOLOGI Budenoside adalah glukokortikoid lokal, poten dan non-halogenasi yang bekerja sebagai anti inflamasi, anti alergi, anti eksudatif dan anti udem. Mekanisme yang pasti terhadap pengobatan penyakit Crohn's tidak sepenuhnya diketahui. Cara kerjanya didasarkan atas kerja lokalnya pada usus. Pada dosis yang secara klinis ekivalen dengan glukokortikoid sistemik, Budesonide secara signifikan memberikan penekanan yang lebih kecil terhadap axis HPA dan pengaruh yang lebih rendah terhadap tanda-tanda inflamasi. INDIKASI Induksi rernisi pada pasien yang mendenta penyakit Crohn's rmgan sampai sedang yang melibatkan ileum dan/atau colon bagian atas. Cafatan: Pengobatan dengan Budenofalk® tidak terlihat bermanfaat pada pasien dengan penyakit Crohn's yang mempengaruhi saluran gastro intestinal bagian atas. Gejala-gejala ekstraintestinal, misalnya yang melibatkan kulit, mata, atau sendi, tidak memperlihatkan respon pada Budenofalk® disebabkan kerja lokalnya. POSOLOGI Dosis yang dianjurkan per hari adalah 1 kapsul (mengandung 3 mg Budesonide) 3 kali sehari (pagi, siang, malam). Kapsul diminum 30 menit sebelum makan, ditelan dengan banyak air (misalnya segelas air). Kapsul tidak boleh dikunyah. Budenofalk® tidak boleh dihentikan tiba-tiba, tapi secara berangsur-angsur (misalnya dikurangi bertahap). PERINGATAN DAN PERHATIAN - Pengobatan dengan Budenofalk® 3 mg menghasilkan tingkat steroid sistemik yang lebih rendah daripada pengobatan dengan steroid oral konvensional. Peralihan dan pengobatan dengan steroid lain dapat menghasilokan gejala-gejala yang berhubungan dengan perubahan tingkat steroid sistemik. - Perhatian dibutuhkan pada pasien tuberkolosis, hipertensi, diabetes mellitus, osteoporosis, peptik ulser, glukoma, katarak, pasien dengan riwayat diabetes atau glukoma keluarga. - Injeksi: Penekanan terhadap respon inflamasi dan fungsi imun meningkatkan kepekaan terhadap infeksi dan keparahannya, Tanda-tanda klinis sering kali berupa infeksi yang serius dan khas seperti septikemia dan tuberkulosis, dapat ditanyakan dan dapat mencapai tahap lanjut sebelum dapat dikenali - Chickenpox: Chickenpox menjadi perhatian khusus karena penyakit yang secara normal ringan dapat menjadi fatal pada pasien dengan fungsi imun yang tertekan Pasien tanpa riwayat pasti chickenpox harus menghindari kontak dengan penderita chickenpox atau herpes zoster dan jika terkena harus segera pergi ke dokter. Jika pasien adalah anak-anak, orangtua harus diberikan peringatan tersebut. Imunisasi pasif dengan imunoglobulin varicella zoster (VZIG) dibutuhkan oleh pasien non-imun yang terkena yang menerima kortikosteroid sistemik atau telah menggunakannya dalam 3 bulan sebelumnya; imunisasi ini harus diberikan dalam 10 hari saat terkena chickenpox. Jika diagnosa chickenpox telah dikonfirmasikan, dibutuhkan pengobatan segera dan penanganan khusus. Kortikosteroid tidak boleh dihentikan dan dosis dapat ditingkatkan. - Vaksin aktif: Vaksin aktif tidak boleh diberikan pada penderita kerusakan fungsi imun. Respon antibodi terhadap vaksin lain dapat berkurang. - Kortikosteroid dapat menyebabkan penekanan terhadap axis HPA dan mengurangi respon stres. Saat pasien akan menjalani operasi atau perlakuan lain yang menyebabkan stres, pengobatan dengan suplemen glukokortikoid sistemik dianjurkan. Pada pasien dengan fungsi liver terganggu, kadar glukokortikosteroid dalam darah dapat meningkat - Kehamilan dan menyusui: Pemberian selama kehamilan harus dihindan jika tidak ada alasan yang memaksa untuk pengobatan dengan Budenofalk® 3 mg. Pada hewan hamil, Budesonide seperti glukokortikoid lain, menunjukkan telah menyebabkan abnormalitas pada perkembangan fetus. Relevansinya terhadap manusia belum ditetapkan. Karena tidak diketahui apakah Budesonide dapat melewati air susu ibu, bayi tidak boleh disusui selama pengobatan dengan Budenofalk® 3 mg. EFEK SAMPING Efek samping kadang-kadang yang khas untuk glukokortikoid sistemik dapat terjadi (efek Cushingoid). Efek samping ini tergantung pada dosis, lama terapi, pengobatan bersamaan atau sebelumnya dengan glukokortikoid lain, dan sensitivitas individu. Studi klinis memperlihatkan bahwa frekuensi efek samping glukokortikoid lebih rendah pada Budenofalk® (kira-kira setengahnya) dibandingkan terhadap pengobatan oral dengan dosis yang sama dengan prednisolon. Akan tetapi kejadian efek samping yang khas untuk glukokortikoid tidak dapat dihindarkan. Efek samping berikut dapat terjadi: - Kulit: Alergi, eksantema, striae kemerahan, petechiae, ekimosis, jerawat steroid, perlambatan penyembuhan luka, dermatitis kontak. - Otot dan Rangka: Kelemahan otot, osteoporosis, nekrosis aseptik pada tulang (femur dan pangkal humerus). - Mata: Glukoma, katarak. - Keadaan mental: Depresi, iritabilitas, euphoria. - Saluran gastro intestinal: Keluhan-keluhan perut, ulkus duodenum, pankreatitis. - Metabolisme: Sindroma cushing: moon face, truncal obesitas, diabetes mellitus, berkurangnya toleransi glukosa, retensi Natrium dengan pembentukan udem, meningkatnya ekskresi Kalium, maktivitas/atropi adrenal korteks, penghambatan pertumbuhan pada anak, gangguan sekresi hormon kelamin (seperti amenore, hirsutism, impotensi). - Sirkulasi: Hipertensi. - Sistem vaskular: Meningkatnya resiko trombosis, vaskulitis (sindrom pi terjadi setelah pemakaian jangka panjang) - Sistem imun: Gangguan respon imun (misalnya meningkatnya - Memburuknya atau munculnya kembali manifestasi (khususnya mempengaruhi kulit dan sendi) dapat ter mengalami pertukaran terapi dan glukokortikoid siste lokal. KONTRA INDIKASI Budenofalk® tidak boleh digunakan pada: - Hipersensitivitas terhadap Budesonide atau komponen - Infeksi lokal pada usus (bakteri, jamur, amuba, virus). Budenofalk® tidak boleh digunakan: - oleh bayi atau anak kecil disebabkan masih terbatasr pengobatan pada kelompok umur tersebut. - Pada gangguan fungsi hati yang parah, Budenofalk® pengobatan dengan glukokortikoid lain, dapat menyebabk kecepatan eliminasi dan peningkatan ketersediaan sistem ini harus dikecualikan dari pengobatan dengan Budeson tertentu. INTERAKSI OBAT - Glikosida jantung: Kerja glikosida dapat diperkuat oleh defisiensi Kalium - Saluretik: Ekskresi Kalium dapat ditingkatkan - Inhibitor sitokrom P450 seperti ketokonazol, troleandron siklosporm: Efek kortikoid dapat ditingkatkan. - Pemberian bersamaan simetidin dan budesonid dap; sedikit peningkatan kadar Budesonide plasma, walaupui klinik. Pemberian bersamaan dengan omeprazol ti farmakokinetik Budesonide. - Secara teori, interaksi potensial dengan resin sintetik seperti kolesteramin dan antasida tidak dapat dikes; diberikan pada saat yang sama dengan Budenofal pengurangan efek Budesonide. Oleh karena itu obal digunakan pada saat yang sama, tapi sedikitnya dala HARUS DENGAN RESEP DOKTER Simpan pada suhu 25°-30° C Hindari obat dari jangkauan anak-anak KEMASAN Box isi 5 blister @ 10 kapsul Reg. No. : DKI0281000401A1 Catatan: Tanggal kadaluarsa dicetak pada blister dan box luar. Obat tidak boleh digunakan setelah tanggal ini. Diimpor oleh: PT. Darya-Varia LABORATORIA Gunung Putri, Bogor-lndonesia Diproduksi DR. FALK
CODE: Z25
Harga Per Satuan Terkecil : Rp1,250.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00
Komposisi : Settap tablet mengandung 0,25 mg betamethasone dan 2 mg dexchlorpheniramine maleate.
Cara Kerja Obat : Kombinasi kortikosteroid betamethasone dan antihistamin dexchlorpheniramine maleate yang mempunyai sifat anti inflamasi, anti alergi.
Indikasi : Kasus alerai pada saluran respiratorius, dermatologik, okular serta penyakit inflamasi okular di mana terapi tambahan kortikosteroid diindikasikan.
Dosis : Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien dan respon yang didapat. Dewasa & anak-anak > 12 tahun 4x1-2 tab /hari, sesudah makan dan pada waktu tidur. Dosis maksimal 8 tab / hari
Jika terjadi perbaikan, dosis harus diturunkan secara bertahap sampai kadar pemeliharaan minimum dan dihentikan jika memungkinkan.
Perhatian : Betamethasone Diperlukan penyesuaian dosis untuk remisi atau eksaserbasi penyakit, respon masimg-masing pasien terhadap terapi dan pemaparan pasien terhadap stress emosional atau fisik. Setelah penghentian terapi jangka panjang atau dosis tinggi,diperlukan pemantauan selama 1 tahun . Insufisiensi adrenokortikal sekunder yang diinduksi obat dapat disebabkan karena terlalu cepat penghentian, dan dapat diperkecil dengan penurunan dosis secara bertahap. Efek kortikosteroid dapat meningkat pada pasien dengan hipotiroidisme atau sirosis. Hati-hati jika digunakan pada pasien dengan Herpes Simplek Okular, kolitis ulseratif non spesifik, abses atau infeksi piogenik lain, divertikulitis, anastomasis intestinal, tukak peptik akut atau kronis, insufisiensi ginjal, hipertensi, osteoporosis, myasthenia gravis. Kortikosteroid dapat memperburuk instabilitas atau tendensi psikotik yang telah ada.Kortikosteroid dapat menyelubungi tanda-tanda infeksi. Pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan katarak subkapsular posterior, glaukoma dengan kemungkinan kerusakan pada saraf optik dan ci meningkatkan terjadinya infeksi mata sekunder karena jamur atau virus. Dengan terapi kortikosteroid, C dipertimbangkan diet pembatasan garam dan suplementasi kalium, semua kortikosteroid meningte ekskresi kalsium. Jangan mengimunisasi pasien yang sedang mendapatkan terapi kortikosteroid. Pasien menerima kortikosteroid dengan dosis imunosupresan harus diperingatkan untuk menghindari pemajanan terhadap chicken pox atau campak dan bila terpajan, berikan pertolongan medis.Hal ini terutama penting anak-anak. Pada pasien dengan tuberkulosa aktif, terapi kortikosteroid harus terbatas pada kasus - kasus tuberkolusa fulminan atau diseminata, dimana digunakan bersama dengan pengobatan anti tuberkulosa yang sesuai. Dapat terjadi reaktivasi tuberkulosa kronis dan pasien ini harus menerima kemoprofilaksis selama terapi kortikosteroid jangka panjang. Kortikosteroid dapat mengganggu laju pertumbuhan dan menghambat produksi kortikosteroid endogen anak-anak yang mendapat terapi jangka panjang , sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak harus terus dipantau. Kortikosteroid dapat mengubah motilitas dan jumlah spermatozoa. Pemakaian bersama dengan phenobarbital, rifampicin, phenytoin atau ephedrine dapat mempercepat metaboiisme kortikosteroid. Dapat terjadi efek kortikosteroid yang berfebihan pada pasien yang sedang menerima terapi estrogen. Pemakaian kortikosteroid bersama dengan diuretika yang meningkatkan pengeluaran kalium dapat meningkatkan hipokalemia. Pemakaian kortikosteroid bersama dengan glikosida jantung dapat meninqkatkan kemungkinan aritmia atau toksisitas digitalis yang berkaitan dengan hipokalemia. Kortikosteroid dapat meningkatkan pengeluaran kalium jika digabung dengan amphetoricin B.Pada pasien yang sedang mendapat terapi kombinasi dengan obat-obatan ini,penentuan eletrolit dalam serum harus dipantau dengan ketat. Pemakaian kortikosteroid bersama dengan anti koagulan tipe coumarin dapat meningkatkan atau mengurangi efek anti koagulan sehingga perlu penyesuaian dosis. Efek gabungan obat anti inflamasi non-kortikosteroid atau alkohol dengan glukokortiroid dapat meningkatkan terjadinya atau bertambah beratnya ulserasi gastrointestinal.Kortikosteroid dapat mengurangi kadar salisilat dalam darah,hati-hati pemakaian asam asetilsalisilat bersama dengan kortikosteroid pada hipoprotrombinemia.Jika kortikosteroid diberikan pada pasien diabetes,diperlukan penyesuaian dosis anti diabetik. Pemakaian bersama glukokortikoid dapat menghambat respon terhadap somatotropin. Kortikosteroid dapat mempengaruhi uji nitro blue tetrazolium untuk infeksi bakteri dan menyebabkan hasil false negatif. Dexchlorpheniramine maleate Hati - hati jika digunakan pada pasien dengan glaukoma narrow angle, tukak peptik dengan stenosis, obstruksi piloroduodenal, htpertrofi prostate atau obstruksi cervix vesica urinaria, penyakit kardiovaskular termasuk hipertensi, peningkatan tekanan intraokular atau hipertiroidisme. Hati - hati pada pasien yang melakukan aktivttas yang memerlukan kewaspadaan mental. Pada pasien > 60 tahun, anti histamine dapat menyebabkan sedasi, pusing dan hipotensi. MAO inhibitor dapat memperpanjang dan memperberat efek anti histamine, sehingga dapat terjadi hipotensi berat. Pemakaian bersama dengan alkohol, anti depresan trisiklik, barbiturate atau depressan SSP lainnya dapat meningkatkan potensiasi efek sedatif dari dexchlorpheniramine. Kerja dari antikoagulan oral dapat dihambat oleh anti histamine. Sebaiknya tidak digunakan untuk anak- anak < 2 tahun. Pemakaian selama kehamilan dan pada wanita yang sedang menyusui serta wanita pada usia subur memerlukan pertimbangan rasio resiko / manfaat baik pada ibu dan anaknya. Bayi yang lahir dari ibu yang pernah mendapatkan dosis kortikosteroid besar selama kehamilannya, harus diamati secara seksama atas tanda-Ianda hipoadrenalisme. Kelebihan dosis Karena merupakan produk kombinasi, maka potensial toksisitas dari masing masing komponennya harus dipertimbangkan. Toksisitas dari dosis tunggal yang berlebihan terutama berasal dari komponen dexchlorpheniramine. Perkiraan dosis fetal anti histamine dexchlorpheniramine maleate adalah 2,5 - 5 mg / kg. Reaksi ketebihan dosis dengan antihistamine konvensionai (sedatif) dapat bervariasi dari depresi SSP (sedasi, apnea, kewaspadaan mental yang menurun, kolaps kardiovaskular) sampai stimulasi (insomnia, halusinasi, tremor, konvulsi) sampai kematian. Tanda-tanda dan gejala lainnya dapat metiputi pusing, tinitus, ataksia, pandangan kabur dan hipotensi. Pada anak-anak, stimulasi adalah dominan, seperti tanda dan gejala yang menyerupai atropine (mulut kering , ditatasi pupil yang menetap , semburan rasa panas, demam dan gejala - gejala gastrointestinal). Dapat terjadi halusinasi, inkoordinasi dan konvulsi dari tipe tonik klonik. Pada orang dewasa, dapat terjadi suatu siklus yang terdiri dari depresi dengan rasa ngantuk dan koma, dan suatu fase rangsangan yang mengarah ke konvulsi yang diikuti dengan depresi. Dosis tunggal dari betamethasone yang berlebihan diperkirakan tidak menyebabkan gejala-gejala akut. Kecuali pada dosis yang paling ekstrim, pemberian glukokortikosterokf beberapa hari dengan dosis yang berlebihan tidak akan menyebabkan hasil yang membahayakan kecuali pada pasien dengan resiko tertentu karena kondisi yang mendasarinya atau mendapatkan obat secara bersamaan yang mungkin berinteraksi buruk dengan betamethasone. Pengobatan kelebihan dosis Bersifat simptomatikdan suportif. Segera induksi emesis / muntah pada pasien yang sadar atau diberikan lavase lambung.Dialisis belum tentu membantu. Jangan menggunakan stimulan. vasopresor dapat digunakan untuk mengobatj hipotensi. Konvulsi paling baik diobati dengan suatu depresan yang bekerja singkat, seperti thiopental. Pertahankan asupan cairan yang memadai dan pantaulah kadar elektrolit dalam serum dan urin, terutama keseimbangan natrium dan kalium.
Efek samping : Betamethasone Dapat meningkatkan gangguan cairan dan elektrolit, muskuloskeletal, gastrointestinal, dermatologik, neurologik, endokrin, opthalmik, metabolik dan psikiatrik. Meskipun demikian, jumlah kortikosteroid yang kecil dalam kombinasi ini memperkecil kemungkinan efek samping. Dexchorpheniramine maleate Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah rasa kantuk ringan sampai sedang. Dapat terjadi reaksi kardiovaskular, hematologik, neurologik, gangguan gastrointestinal, dermato-venerologik, respiratorius, Efek samping umum seperti urticaria, ruam obat, shock anafilakfik, fotosensitif, perspirasi yang berlebihan, demam; mulut,hidung dan tenggorokan kering pernah dilaporkan.
Kontra indikasi : Hipersensitif, neonatus, premature, pasien dengan infeksi jamur sistemik, pasien yang sedang rnendapatterapi MAOI.
Penyimpanan : Simpandi tempat sejuk (15-25C) dan kering.
Kemasan : Box, 10 strip @ 10 tablet No.Reg.DKL0721015310A1 HARUS DENGAN RESEP DOKTER PYRIDAM FARMA
CODE: A61
Harga Per Satuan Terkecil : Rp300.00 Harga Per Satuan Terkecil: Rp0.00
CORSONA DEXAMETHASONE Tablet Injeksi
KOMPOSISI :
FARMAKOLOGI : Diduga kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi sintesis protein pada proses transkripsi RNA. Induksi protein ini merupakan perantara efek fisiologik steroid. INDIKASI : Kongenital adrenal hiperplasik, non suppurative chyroidifis, asma bronkhial yang disertai inflamasi akut, rinitis alergika, radang selaput mata karena alergi, penyakit fTeoplastik, penyakit kulit karena alergi dan peradangan, sebagai terapi tambahan pada rematoid arthritis dan acute gouty arthritis. DOSIS : Dosis permulaan : Dapat berkisar antara 0,75 mg sampai 9 mg sehari, tergantung pada parahnya penyakit. Dalam keadaan belum parah umumnya diberikan dosis yang lebih rendah, sedangkan pada penderita - penderita tertentu kemungkinan diperlukan dosis permulaan yang lebih tinggi. Dosis selanjutnya : Ditentukan dengan cara pengurangan dosis permulaan sedikit demi sedikit secara bertahap, dengan jarak waktu - antara secukupnya sampai dicapai dosis terendah yang akan tetap memberikan daya klinis yang diperlukan. KONTRA INDIKASI :